SIMON BUIS

Myspace Marquee Text - http://www.palasaribali.com

PALASARIWISATA

PASTUR SIMON BUIS ALMARHUM DAN SEJARAH GEREJA KATOLIK BALI

Masalahnya kini bila kita ingin mengenal sejarah Gereja Katolik Bali, secara jujur terlebih dahulu kita harus tahu siapa-siapa perintisnya karena kehadiran Gereja Katolik Bali, khususnya Palesari tak dapat kita pisahkan dengan peran nyata para perintisnya dan salah satu diantaranya yang berhasil memproklamirkan kelahiran Gereja Katolik Bali yang berpuncak pada berdirinya Palesari dan kini telah berkembang menjadi Keuskupan Denpasar adalah aim. PASTUR SIMON BUIS, SVD.

Untuk itu kini kami mencoba menyimak sedikit tabir yang masih gelap ini. Karena terbatasnya data dan pengetahuan kami maka baru sekian inilah yang dapat kami ungkapkan;

sebab menjadi tugas kita sekalianlah untuk melumskan jalannya sejarah dan menggali kembali butir-butir mutiara yang masih terpendam ini.

12-11-1892               :           Alm. Pastur Simon Buis dilahirkan di sebuah kota kecil yaitu di Medenblik, sebuah kota yang terletak di salah satu daerah wisata di Negeri Belanda. Mengenai apa dan siapa beliau di masa kanak-kanak belum banyak diketahui, termasuk kejadian-kejadian istimewa pada masa kanak-kanak tersebut.

10-10-1910               :           Masuk Konggregasi SVD di Steyl Holland, yang merupakan pusat SVD di Eropa.

Agustus 1919           :           Tiba di Batavia (Jakarta) sebagai seorang Romo muda / Frater, Sebelum mengemban tugas di daerah Misi (Flores) oleh Konggregasi beliau ditugaskan ke Muntilan, Magelang pada Romo Van Lith, SY., selama V/i bulan beliau belajar mengenai bagaimana berurat berakamya Gereja di Indonesia, apabila Gereja Katolik masuk Desa dan masalah pengelolaan pendidikan, Waktu yang singkat ini dipergunakan untuk menyumbangkan salah satu idenya, kepada Romo Van Lith, SY., Yaitu bahwa Pendidikan saja sebagai sarana belum cukup, Ibaratkan kita memiliki sepasang mata, karya misi akan lengkap bila ada PENDIDIKAN DAN CINTA KASIH (Orang Samaria yang murah hati Lk, 10; 33-37) sebagai motivator biblis. Dan yang ditonjolkan adalah pelayanan untuk orang-orang sakit. Dan hal ini pun telah beliau buktikan di Tuka, Singaraja dan juga di Palesari.

Okt.1910-1921        :           Fr. Simon Buis.SVD menjabat sejenis jabatan Penilik 1921 yang bermarkas di Ndona, yang waktu itu meliputi wilayah Sunda Kecil, sekarang menjadi NTT, NTB dan Bali. Dalam masa-masa ini, bersama  dengan Mgr. Noyen, SVD. Beliau telah mencoba berulang kali mengajukan permohonan kepada Gubemur Jenderal di Jakarta baik dengan bersurat atau beraudiensi, guna dapat mendirikan sebuah sekolah di Bali, yaitu di Denpasar dan Klungkung. Tanggal 26 September 1921 ijin keluar untuk mendirikan sebuah HIS di Gianyar, Sayang sebelumnya yaitu tanggal 24 Februari 1921 Mgr. Noyen, SVD. meninggal di Eropa. Prater Simon Buis mencoba untuk bertugas di Bali untuk menindak lanjuti ijin tersebut. Tapi karena harus menyelesaikan Theologi terlebih dahulu; kesempatan “emas” ini akhimya hilang tanpa bekas.

1922-1925                :           Memperdalam Theologi di USA,

28 Marot 1925         :           Ditahbiskan menjadi Imam dekat Chicago (USA) dan* selanjutnya kembali ke Eropa untuk suatu propaganda bagi Misi.

1928                           :           Kembali ke USA, ke New York dan sempat ambil studi tentang Drama, Sutradara dan Tehnik pembuatan Film di Kota-kota para bintang Film, Holywood.

4.-9-1934                  :           Salah satu karya Filmnya yang populer berjudul “R1A RAGO” Dalam pertunjukan karya Film di Hilversen terjadi sebuah malapetaka dalam gedung pertunjukan. Malapetaka ini beliau petik hikmahnya Beliau bangkit dan kembali motion untuk dapat bertugas di daerah Misi.

1935-1936                :           SITUASI GEREJA KATOLIK BALI PADA MASA INI:

11-9-1935         :       Misionaris pertama untuk Bali PJ Kersten, SVD tiba di Bali via Padangbai diantar oleh misionaris Lombok P.V. de Heyden dan menetap di Denpasar pada sebuah rumah sewaan. Beliau mengemban tugas khusus untuk orang-orang Katolik bangsa Eropa dan Melayu. Dan dilarang untuk mengadakan hubungan atau kunjungan kepada orang-orang Bali. Justru pada masa inilah mulai terjadi dialog dengan orang-orang Kristen Protestan Bali dan menyusul dengan permandian/ pertobatan I Made Bronong dan I Wayan Diblug.

April 1936        :        PJ. Kersten, SVD mengadakan permandian secara Agama Katolik atas anak-anak Katolik Bali, Hal ini dianggap sebagai pelanggaran besar dan menimbulkun protes yang berpuncak pada peristiwa permandian I Tumpleng anak dari 1 Mulat, yang akibatnya secara langsung dirasakan.

12-6-1936                 :           oleh Umat Katolik Tuka, dimana ketika itu sudah ada 16 orang dewasa yang dipermandikan, terpaksa sampai dipanggil oleh Raja Badung sebagai akibat lanjut peristiwa itu.

Usaha umat Katolik perintis ini temyata menarik perhatian dan minat orang banyak. Reaksi tidak puas dari Pemerintah dan lingkungan ritual pada waktu itu kian gencar. Dan ditambah lagi dengan terganggunya kesehatana PJ. Kersten, SVD., Beliau mohon kepada Regional untuk kembali ke Eropa, dan minta agar P. Simon Buis, SVD. yang sedang cuti di Eropa menggantinya buat sementara.

30-9-1936                 :           Dalam situasi yang penuh kemelut inilah beliau tiba di Bali dan langsung menyelesaikan masalah dan kemelut tersebut secara diplomatis sampai tuntas, sehingga beliau tidak hanya disegani oleh umatnya, tapi juga oleh lingkungan yang tidak mendukung, termasuk Pemerintah Hindia Belanda sendiri. Sejak itu menurut kesaksian salah seorang Perintis Palesari; Antonius I Wayan Geledug, alias Pan Riog; bahwa beliau tidak hanya dipanggil Pastur Simon Buis, tapi juga Pastur Simon Bima ( Tokoh pewayangan Bhima, salah satu dari Panca Pendawa). Dan julukan ini lebih populer lagi dalam menyelesaikan masalah-masalah tatkala membuka hutan untuk merintis berdirinya PALESARI.

12-7-36                      :           Peletakan batu pertama pembangunan Kapela di Tuka.

14-2-1937                 :           Upacara tahbisan / pemberkatan Gereja atau Kapela Tuka, sebagai Gereja Katolik pertama di Bali. Dilakukan oleh Mgr. Abraham dari Amerika Serikat, yang kebetulan berkunjung ke Bali. Pastur Simon Buis; mengadakan upacara secara adat Bali, selama 3 hari tiga malam.

27 Maret 1937         :           Untuk pertama kalinya permandian dilakukan di Tuka. 51 orang Dewasa, 48 orang menerima Komuni pertama dan 15 pasang pemikahan, Beliau mulai membangun rumah di Tuka, sementara di Gumbrih ada 30 orang Katakumen.

Paskah 1937            :           Beliau mendapat ijin dari residen untuk pindah dari kota dan menetap di Desa, ditengah-tengah orang orang K-atolik Bali, umatnya. Dan diperkenankan untuk membuka balai pengobatan sederhana. Akhir Met 1937 beliau mulai menetap di Tuka dan kegiatan Misi dijalankan disekitar Tuka, Pegending dan Padang Tawang. Cita-citanya untuk tinggal di Desa, dan menjadikan desa sebagai basis kegiatan misi sebagaimana dipelajarinya dari Romo Van Lith, SY., kini terkabul.

9-2-1938                   :           P. Simon Buis, SVD. mendapat seorang partner baru, yaitu Pastur A. de Boer, SVD., sebagai misionaris Bali yang ketiga dan menetap di Tuka.

Paskah                       :           Beliau telah mempermandikan umat sebanyak 87 orang di Tuka, 35 orang di Padangtawang, 6 orang di Gumbrih.

September 1938      :           Klinik dibuka di Singaraja, yang pembangunananya telah dimulai sejak Juni 1938, dipimpin oleh Suster Fransiska Muler, seorang awam Katolik. Sementara itu di Gumbrih juga telah didirikan sebuah Kapela. Ada Informasi Ball Barat akan dibuka dijadikan daerah Transmigrasi lokal. Mulailah diadakan pendekatan dan perintisan ke arah itu. Hambatan datang dari orang-orang yang seharusnya bukan bersikap demikian. Namun terdorong oleh rasa tanggung jawab yang tinggi, disamping faktor Iman dan penghidupan serta masa depan yang layak bagi umatnya, yang kala itu rata-rata petani penggarap yang miskin dan tidak memiliki tanah garapan. Disamping itu juga terdorong oleh cita-cita untuk membangun sebuah Desa; khas Ball dan bemafaskan agama Katolik. Misi pertama dibawah pimpinan P. A. De Boer, SVD. diikuti oleh antara 6 sampai 8 orang umat; dilakukan di kawasan Yeh Embang, Nampaknya kurang diminati, Selanjutnya, ditujukan di sebelah barat Negara.

November 1938       :           Umat Katolik Bali berjumlah 251 orang. P. J. Kersten, SVD. Telah kembali dari Bropa.

Februari 1939           :           Gereja di Gumbrih selesai. Kebutuhan Umat untuk dapat memiliki tanah garapan dan membangun sebuah desa semakin mendesak. Beberapa tempat telah didatangi dan diperjuangkan. Dalam tahap puncak perjuangan tiba-tiba Blimbingsari dibuka. Hal ini diibaratkan sebagai cambuk bagi almarhum, untuk mendobrak tiap hambatan.

Mei 1940                   :           Titik-titik terang untuk membuka hutan untuk pemukiman dan lahan garapan mulai ada. Dalam waktu 3 bulan ijin teratasi.

15 Sept 1940            :           Pastur Simon Buis, SVD. dan bersama 24 Kepala rumah tangga membuka hutan di Bali Barat. Dari 24 orang laki-laki Dewasa tersebut, 6 orang kembali ke Desa asal dan 18 orang tetap melanjutkan membuka hutan. Pastur Simon Buis, SVD. bersama 18 orang ini dikenal atau disebul sebagai Perintis berdirinya PALESAR1,

12 Nop 1940            :           Pada hari Ulang Tahun beliau yang ke 48, tiga buah otto bus konvoi meninggalkan Tuka mengantarkan 22 KK menyusul menuju Bali Barat, yang mereka lukiskan sebagai perjalanan menuju Tanah Terjanji; KANAAN; sebab kini di dada mereka bersemi harapan harapan barn, di tanah yang mereka bangun menjadi rumah dan miliknya sendiri.

Tahun 1941       :     Sementara itu Umat Katolik Bali beijumlah; 96 orang Eropa dan 293 orang Bali dan Melayu. Banyak kisah-kisah menarik dalam masa ini, Misalnya bagaimana beliau dalam keadaan sakit payah terserang muntaber; akhimya sembuh dengan ramuan obat tradisional campuran madu, menyan dan sawo manila muda yang ditumbuk halus oleh Yohanes I Wayan Ngantug alias Pan Mundera, atas petunjuk beliau, Demikian jua bagaimana beliau selalu lebih duhulu bekerja merabas hutan dan “metajuk” (menanam benih dengan membikin lobang-lobang pada tanah dengan sepotong kayu yang diruncingkan), dan pada acara pemberkatan Gereja, beliau sendiri yang turun tangan untuk mencari Gong di Jembrana.

Agustus 1942           :           Jepang masuk ke Bali. Oleh Jepang P. Simon Buis, SVD. dipenjarakan selama 18 bulan di Singaraja. Rambut dan janggut tumbuh panjang dan lebat. Tahun 1943 dipindahkan ke Sulawesi (Makasar) kemudian ke Fare-Pare bersama Tuan Bonet. Sebelum berangkat Tuan Hofker Cs membuat foto / lukisan wajah beliau, yang dijadikan dasar pembuatan Patung untuk Monumen P. Simon Buis, SVD / Monumen Palesari.

1942 – 1946               :           Masa suram. Umat Katolik Bali tanpa Imam. Hanya sekali-sekali ada kunjungan dari Jawa, misalnya Romo Gondo Wardoyo, O.Carm. Saat-saat ini amatlah besar peranan Bapak Guru Nyoman Pegeg dan Bapak Philipus da Pareira sebagai katekis atau Guru Agama.

1945-1949                :           Zaman Revolusi phisik mempertahankan kemerdekaan, Palesari juga merupakan salah satu basis dari markas pemuda pejuang Jembrana, dan beberapa perintis juga ikut dalam kancah perjuangan, di bawah pimpinan I Gusti Kompiang Djiwa aim, yang juga telah mendapat pengakuan sebagai Veteran Republik Indonesia; dan yang lain diperkirakan segera menyusul. (tercatat seperti Nicolaus I Made Cetug alias Pan Cateri, Pan Suin, Pan Gina, I Gusti Made Gerih, I Gusti Putu C. Supardhi, sebagai Veteran R.I).

Mei 1946                   :           P. Simon Buis, SVD, dan P. J. Kersten, SVD. tiba kembali di Bali, setelah bebas dari tahanan Jepang di Sulawesi Selatan dan mendarat di Buleleng. Umat Katolik Bali khususnya Palesari menemukan kembali Gembalanya. Palesari (lama) kian Padat, sementara yang datang kian bertambah terus-menerus. Perjuangan untuk mendapat lahan tambahan di Lokasi Palesari yang sekarang mulai dirintis, meski disertai imbalan ketegangan yang hampir saja mengarah ke pertarungan phisik dari mereka yang non kristen yang datang kemudian, Akhimya tambahan seluas 200 Ha yang memang semula diperuntukan bagi Palesari oleh Punggawa Westra berhasil diperoleh.

Tahun 1947              :           P. Simon Buis, SVD.; setelah melakukan upacara seperlunya memimpin kembali “Eksodus / pengungsian menyeberangi Tukad Sangiang Gede” dari Palesari Lama (Orang Luar Palesari menyebutnya “Kristen Buwuk”; menuju Palesari yang baru (Palesari / Pemaksan Palesari yang sekarang). Kala itu jumlah Umat Palesari telah mencapai 100 KK. Secara bergiliran mereka bergotong royong memindahkan gedung gereja, Balai Banjar dan rumah dengan cara menggotong menyeberangi Sungai Sangiang Gede. Pagi satu rumah, sore satu rumah, dan terakhir makampun ikut dibongkar / dipindahkan.

Tata desa Palesari yang baru telah dirancang menurut penataan desa modem yang berwawasan ke masa depan; dengan fasilitas pekarangan antara 16 – 18 are / KK, jalan-jalan yang lebar, lokasi Gereja dan pasturan; Lapangan olah raga, tempat persekolahan, Balai Banjar serta tempat-tempat suci dan tempat-tempat umum lainnya. Semua dirancang oleh almarhum dengan gambar dan sketsa yang lengkap, yang didukung oleh aparat pemerintah Desa dan swatantra pada waktu itu. Bahkan Gereja, Sekolah, Poliklinik, pertamanan dan pola Taman, buah untuk penghijauan sudah dipersiapkan. Bahkan bukit lokasi monumen Simon Buis sengaja dijadikan hutan mini, dengan menitipkan pesan kepada anak-anak muda saat itu diantaranya Bapak I Gst. Patu C. Supardhi; bahwa di atas bukit tersebut beliau ingin membangun sebuah rumah / pasturan yang beliau istilahkan dengan “GERIA”.

1946-1347                :           Wabah influensa menimpa Palesari, Banyak warga yang menderita bahkan ada yang meninggal dunia. Hal ini mendorong beliau untuk membikin sebuah edaran ke Jawa untuk memanggil sukarelawan / wati yang siap menyelamatkan anak-anak Palesari dari wabah penyakit. Edaran tersebut mendapatkan tanggapan positif dari Ibu Valentina Sabda Kusuma; dan siap mandampingi buat melanjutkan membangun Palesari.

Mei 1949                   :           Valentina Ibu Ayu Sabda Kusuma tiba di Palesari diantar oleh P. B. Blanken, SVD. dan P. Simon Buis, SVD. bersama umat menjemput di batas desa. Hal ini berlanjut menjadi semacam tradisi, untuk menyambut pejabat Gereja. Pembangnnan dalam bidang kesehatan dimulai dengan membangun sebuah Poliklinik. Semula dibangun di tanah milik Pak Barto, lalu pindah di lokasi Susteran Palesari dan terakhir di lokasi sekarang, dengan mengambil nama Poliklinik / BKIA “PUNIA GIRI”.

20-7-1950                 :           Satu demi satu misionaris diutus ke Bali. Dan pada tanggal 20 Juli 1950 P. H. Shadeg dan P. Y. Flaska tiba di Bali lewat Flores sebagai misionaris untuk Bali-Lombok setelah Pastor Heyne, SVD. dan Pastur Van lersal, SVD.

Sept 1950                  :           Pastur Simon Buis, SVD. ditetapkan sebagai Pastur Paroki Singaraja dan P. B. Blanken, SVD. sebagai Pastur Palesari. Di satu pihak Umat merasa ditinggal oleh Gembalanya; namun di pihak lain timbul suatu harapan besar karena kehadiran Gembala muda dan penuh vitalitas. Umat menyebut beliau sebagai Ida Pedanda Anom, dan P. Simon Buis disebut dengan panggilan Tuan Gede atau Ida Pedanda Lingsir.

Nopember 1950       :           P. Simon Buis, SVD. kembali ke Nederiand diantar oleh P. Norbert Shadeg, SVD. untuk pamitan kepada umatnya yang terkasih mulai dari Lombok, Denpasar, Tuka, Piling (Tabanan), Gumbrih, Singaraja dan Palesari.

Tak ada yang menyangka bahwa pertemuan itu adalah sebuah pertemuan untuk yang terakhir kalinya. Ada saat untuk bertemu, ada saat untuk berpisah. Kenangan beliau yang terakhir buat Umat Palesari adalah 200 stek bibit Mangga (Poh Goiek) yang ditanam di sekitar lapangan dan pekarangan masing-masing. Sayang dewasa ini tak ada satu pun Umat Palesari yang melestarikan pohon Mangga tersebut, terakhir yang ada di depan rumah Andreas I Ketut Sobral alias Pan Sandi, juga sudah musnah.

5 Jan 1955                :           Beliau mengalami amputasi tangan kanan bawah dan selanjutnya melakukan propaganda untuk misi. Tangan “emas” yang telah berhasil melakukan pertobatan, permandian, pembangunan phisik maupun non phisik dalam menaklukan kawasan hutan Pangkung Sente dimana tegak pohon-pohon PALE tinggi menggapai langit yang melahirkan PALESARI, sebagaimana dilukiskan dalam syair dan lagu oleh Bapak Dominikus. Do’a sepertu ini ; Palesari sungguh elok / Semerbaklah baumu. Sarimu memang menarik / orang kenal padamu. Man I ah buktikan / saksikanlah sendiri, Banyak rumah gedungmu / Gereja nan Indah pennai / Sungguh elok wajahmu / Palesari desaku.

25Agust. 1960    :    Suatu berita dukacita yang amat dalam, menimpa umat Palesari, Penulis sendiri masih ingat betapa P. B. Blanken, SVD. sendiri langsung menyampaikan berita duka itu di depan altar Goreja Katolik “Hati Kudus Yesus” Palesari; yang belum sempat beliau saksikan;

namun banyak memberikan masukan berupa ide-ide dasamya, yang dituangkan ke dalam gambar oleh Ida Bagus Tugur dan dibangun oleh P: B. Blanken, SVD., dan Bruder Ignatius A.M. de Vrieze, SVD.;

satu-satunya Trio perintis yang kini masih ada di Palesari. Dalam usia menjelang 68 tahun beliau berpulang untuk menghadap DIA YANG TELAH MENGUTUSNYA. Semangat dan rohnya, tetap melekat tertanam di hati umatnya yang senantiasa siap siaga buat meneruskan karyanya yang tak akan pemah terhenti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s