Gereja dan Rancangannya

GEREJA ini dirancang oleh seorang berkebangsaan Belanda, Bruder Ign. AMD Vrieze, SVD, dan mulai dibangun pada tahun 1956. Sedangkan “pentahbisan” gereja Katolik ini dilakukan pada 13 Desember 1958. Rehabilitasi diawali pada Agustus 1992, dan selesai pada 1994.

Sebelum memasuki areal gereja, orang akan melewati sebuah alun-alun yang sangat luas, yang terletak sisi kanan (di sebelah Barat) gereja ini. Suasana lingkungan yang lengang dan hening sudah dapat dirasakan sejak melintasi jalan menuju gereja. Melalui jalan raya yang ada di hadapannya, pengunjung/umat akan dapat masuk melalui dua buah candi bentar gaya Bali, berpintu terali besi, dicat putih, masing-masing dengan enam anak tangga (undag) di depannya. Dengan pelataran yang luas dan penataan lansekap yang asri, pengunjung/umat akan “diarahkan” menaiki tangga memasuki halaman kedua, yang “diterima” oleh candi bentar pula dengan 20 buah anak tangganya, lebih banyak dari undag candi bentar yang ditemui sebelumnya. Beberapa jenis pepohonan seperti cemara, palm, kemboja, flamboyan, dan bermacam tanaman hias lainnya tertata rapi dan indah. Dari halaman yang kedua inilah baru terlihat pintu gerbang utama bangunan gereja ”Hati Kudus Yesus” (HKY).

Saat pertama masuk gereja ini, akan dijumpai semacam foyer (ruang penerima), yang pada bagian atasnya merupakan lantai dua, yang (pada awalnya) dipakai untuk ruang kegiatan paduan suara (koor) sebagai pengiring prosesi upacara persembahyangan. Kini, kegiatan koor lebih sering diselenggarakan pada sisi ruang depan altar, kecuali kalau dalam keadaan tertntu umat yang datang beribadat sangat penuh dan memadati ruang, maka barulah ruang pada lantai dua di bagian depan tersebut difungsikan.

Sesudah melewati ruang ini, lantas ke ruang umat (ruang untuk sembahyang). Lebih masuk lagi, di sebelah kiri podium pertama dipajang patung Santo Josef, dan di sebelah kanannya berdiri patung Bunda Maria. Pada podium utama kemudian, di tengah-tengahnya terdapat ruang altar yang berfungsi sebagai tempat kurban. Di belakang altar terdapat tabernakel (penyipanan sakramen roh kudus) berlatar belakang patung Yesus Kritus (disalib) menempel pada dinding bagian atasnya. Ruang paling belakang merupakan ruang sakristi (persiapan).

Di sebelah kanan dan kiri altar terdapat tempat sembahyang para biarawan dan biarawati, atau untuk para umat yang tidak memperoleh tempat pada ruang umat di depan (ruang ini disebut pula sebagai ruang kapela). Selain itu terdapat pula dua buah ruang “pengampunan dosa” (ruang pengakuan), yang masing-masing memiliki luasan sekitar 6 m2. Ruang-ruang ini pun mengambil posisi di sebelah kanan dan kiri altar. Di belakang atau di sebelah timur laut gereja, selain tersedia garase, terdapat arsitektur tempat hunian (tempat tinggal) para pendeta (bangunan “pastoran”) berdampingan dengan “pendopo pasturan”, tempat ziarah dan tempat parkir kendaraan yang ada di sebelah Selatannya.

Perpaduan

Gereja HKY merupakan perpaduan antara gaya Eropa (model Gothik) dengan arsitektur Bali. Pada arsitektur gereja ini, ada tujuh buah salib di atas atap. Tiga buah salib dipasang pada tiga buah menara di atas bangunan bagian depan, tiga buah di atas bangunan bentuk meru, dan satu lagi di puncak atap ruang sakristi. Tujuh buah salib ini melambangkan tujuh sakramen, yakni permandian, pengakuan, komuni, krisma (penguatan), perkawinan, imamat (yang ditahbiskan menjadi iman), dan pengurapan minyak suci. Puncak bangunan yang tertinggi (pada puncak atap meru bertumpang tiga), berketinggian 33 meter dari permukaan lantai dasar bangunan.

Menurut Bapak Puniastha — ketua bidang pembinaan iman di Gereja HKY, tiga buah bangunan meru — satu buah bertumpang tiga, dan dua buah lagi bertumpang dua — melambangkan sifat “Tri Tunggal Maha Kudus” (satu Tuhan, tiga pribadi), yaitu Allah sebagai Bapa, sebagai putra Yesus, dan roh kudus.

Dengan menggunakan struktur rangka tiang (pilar) beton bertulang berbentuk melengkung, lengkungan tersebut sebagai lengkungan model Gothik, yang bermakna mengarah ke atas (ke Yang Maha Kuasa). Tiang-tiang struktur berbentuk lengkung tersebut (puncaknya) memiliki ketinggian 12,50 meter dari permukaan lantai gereja. Secara visual bentuk lengkungan tersebut terlihat dengan jelas dari ruang ibadah (umat bersembahyang), dengan tampilan yang jujur, struktur tersebut diekspose dan dicat, dan pada bagian bawah/kakinya ditempel ornamen style Bali.

Bentuk geomentris yang demikian ini diimbangi pula bentuk kusen-kusen jendela yang melengkung ke atas, dengan kaca jendela berwarna warni, yang pada tepian kusennya (berhubungan dengan dinding) dibingkai dengan paras warna abu-abu.

Bahan dinding-dinding dengan ketebalan 45 cm bangunan gereja ini dibuat dari bahan (cetakan) campuran bata merah yang ditumbuk, kapur dan pasir. Setelah mengeras bahan ini disebut dengan batu porma. Kecuali untuk dinding-dinding pemisah ruang yang terdapat di antara ruang altar dan ruang sakristi, serta dinding (ketebalan sekitar 30 cm/satu bata) penyekat ruang sakristi itu sendiri (terbagi menjadi dua ruangan) menggunakan bata merah.

Atapnya menggunakan genteng plentong Pejaten pada bangunan induk, beratap ijuk (bahan yang berasal dari Lampung). Bahan ijuk bersebut secara khusus hanya dipergunakan pada tiap-tiap atap yang tertinggi dari menara (bentuk meru) yang bertumpang, dengan rangka atap memakai bahan kayu bangkirai. Seluruh kusen terbuat dari bahan kayu merbau. Kemudian, pada plafonnya sebagian memakai kayu bangkirai bentuk lambersiring dan sebagian lagi lambersiring jati. Sedangkan lantainya menggunakan bahan keramik.

Terilhami
Bila diamati lebih seksama, maka wajah (fasade) depan arsitektur gereja ini — yang lebih didominasi oleh unsur bidang datar vertikal — mungkin terilhami fasade gedung S. Agostino di Roma karya Giacomo da Pietrasanta dan gedung S. Maria Novella, Florence karya Alberty.

Secara proporsional, figur geometris fasade tersebut memiliki visualisasi yang hampir serupa dengan fasade gedung-gedung tersebut di atas. Begitu pula yang terlihat pada pintu masuk utama bangunan gereja. Pengaruh unsur bidang datar vertikal dari Eropa tersebut terlihat sangat dominan. Namun tampilannya berhasil “dipercantil” oleh ragam hias Bali, dengan pemakaian warna serta bahan lokal khas Bali, seperti pemakaian batu paras (yang diukur) serta bata gosok (pripihan).

Adanya tampilan bentuk-bentuk meru yang ditemukan pada bagian atap di sebelah utara, berkedudukan tepat di atas ruangan berpajang patung Yesus Kristus, dimana lubang/celah masuknya sinar matahari meneruskan cahayanya pada patung Yesus Kritus trsebut, yang mendukung suasana religius dan komunikatif antara ruang dalam gerja dengan alam lingkungan semesta sekitarnya. Bila diamati bentuk denahnya, sepertinya nampak terinspirasi dari metafora bentuk salib, ruang altar sebagai titik perpotongannya. Sedangkan secara makro, garis sumbu (maya) sebagai salah satu unsur arsitektur dapat ditarik dari titik patung HKY yang terletak di halaman pertama (dekat pagar tembok) sampai pada titik ruang tabernakel.

Perpaduan

Dari uraian tersebut, dapat diperoleh suatu tambahan informasi, khususnya tentang ciri spesifik yang terdapat dalam rancangan arsitektur Gereja HKY ini. Dari hasil pengamatan sepintas, wujud arsitektur gereja ini kiranya terlahir dari hasil “perkawinan” arsitektur Eropa dan Bali. Paling tidak, ada upaya perpaduan unsur-unsur rancangan dan susunan kedua arsitektur tersebut.

Perihal ini dapat ditunjukkan oleh (1) adanya hirarki penataan tapak (site) dari areal yang paling umum (publik), semi privat, dan privat, mendekati tatanan yang terdapat pada tempat peribadatan Hindu (pura), berupa pembagian zona jaba sisi, jaba tngah, dan jeroan. Keadaan ini secara visual (batas-batasnya) tertera pada perbedaan ketinggian tapak yang dihubungkan dengan undag-undag, pada setiap batas areal peruntukan; (2) tampilan bentuk meru pada bagian atap bangunan, dengan menggunakan bahan lokal alami, sebagaimana yang dipakai oleh bangunan arsitektur Bali; (3) ada upaya untuk menyesuaikan/beradaptasi dengan ragam hias arsitek Bali tradisional yang dikembangkan, mengikuti pakem-pakem yang diatur ke dalam tatanan hirarki penempatan ornamen pada bangunan gereja ini; (4) memiliki kejujuran struktur, tanpa meninggalkan nilai filosofi yang dikandungnya; (5) menyimpan makna-makna yang dielaborasi ke dalam wujud arsitektur gereja, baik melalui konsepsi perjuangannya, orientasi, unsur-unsur arsitektur dan susunannya; (6) ketahanan bangunan yang secara struktural mampu bertahan secara utuh sampai saat ini; (7) suasana lingkungan yang hening dan alami, sangat menunjang suasana di lingkungan bangunan yang terdekat sampai pada bagian ruang dalamnya; (8) memanfaatkan penghawaan dan pencahayaan yang alami; (9) berupaya beradaptasi dengan tata aturan/tata nilai arsitektur Bali – tradisional yang ditrapkan di Bali. Misalnya konsepsi Tri Angga (kepala, badan, kaki), Tri Samaya (attita, artamana, nagata) pada rancangan arsitektur gereja ini.

Satu hal lagi yang turut memperkuat identitas arsitektur gereja ini, sehingga mampu memberikan ciri khas tampilannya, yaitu wujud fasade yang kontras namun kontekstual terhadap lingkungannya. Unsur kontras dalam sebuah rancangan arsitektur terkadang memang perlu, asalkan “perkawinan”-nya dengan arsitektur dan lingkungan setempat terpaut secara serasi, saling mengisi dan harmonis, sehingga keadaan yang demikian mampu menunjang kekhusukan religius dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.

* I Nyoman Gde Suardana

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s