Pesan Gembala

SURAT GEMBALA USKUP DENPASAR PRAPASKAH-PASKAH 2012

Mewujudkan Hidup Sejahtera: Panggilah Hidup dan Tanggungjawab

Saudara-saudari, umat beriman se-Keuskupan Denpasar, yang saya kasihi,

Prapaskah kembali menyapa kita. Prapaskah merupakan masa Retret Agung selama 40 hari. Dalam kerinduannya untuk memperbaharui praktek-praktek liturgi Gereja, Konstitusi tentang Liturgi Kudus Konsili Vatikan II menyatakan, “Dua ciri khas Masa Prapaskah adalah mengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan, dan membina sikap tobat. (KL. 109).

Selama masa puasa Gereja ingin memperbaharui diri dengan komitmen khusus untuk melakukan tugas perutusan dalam segala aspek penyelamatannya. Dalam masa puasa, kita diajak memandang Salib dengan perhatian khusus untuk memahami pesannya secara baru. Kita hendaknya menangkap pesan Salib karena ia berbicara di zaman kita, kepada manusia masa kini: “Yesus Kristus tetap sama, kemarin, hari ini, dan selamanya” (Ibr. 13:8). Di Salib Yesus terungkap sebuah panggilan hidup kepada metanoia-pertobatan: “Perbaharuilah hidupmu dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15).

Selaku Pimpinan Gereja Lokal Keuskupan Denpasar, saya mengajak seluruh umat agar dengan sungguh-sungguh memaknai dan memanfaatkan masa ini untuk menimba rahmat Allah dengan berbagai kegiatan yang memungkinkan tumbuh suburnya hidup rohani kita. Masa ini merupakan suatu kesempatan indah bagi kita untuk berserah diri kepada Tuhan melalui doa, pantang, puasa, tobat, perbuatan amal kasih, syering Kitab Suci dan kegiatan pendalaman iman. Syering pengalaman dalam kelompok kategorial dan Komunitas Basis Gerejawi (KBG), akan memperkaya dan menguatkan kita satu sama lain.

Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konferensi Wali Gereja Indonesia (PSE KWI) mengusung tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun 2012 “Mewujudkan Hidup Sejahtera: Panggilan Hidup dan Tanggungjawab”. Senada dengan tema APP Nasional, APP Keuskupan Denpasar mengangkat tema: “Memancarkan Wajah Kristus melalui Panggilan Hidup dan Tanggung Jawab sebagai umat Katolik” yang dijabarkan dalam lima sub tema sebagai bahan pendalaman iman umat dalam komunitas basis selama masa prapaskah.

Mewujudkan Hidup Sejahtera

Hidup sejahtera merupakan dambaan setiap orang. Namun impian itu ternyata tidak mudah diraih oleh setiap orang. Meskipun hidup di alam kemerdekaan, rakyat Indonesia masih didera kemiskinan yang amat memprihatinkan. Di tengah penderitaan rakyat kecil yang memilukan, para pemimpin negeri ini justru disibukkan dengan perkara suap dan korupsi yang nilainya mencapai angka nominal milyard bahkan triliun. Hal ini sangat menyakitkan hati rakyat kecil karena pelakukanya adalah mereka yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat dan di partai-partai yang selalu mengumbar janji manis untuk melayani dan mewujudkan kesejaharaan rakyat dan berpihak kepada wong cilik. Ternyata janji manis itu hanya sebuah slogan belaka, sebab ketika mereka berhasil mencapai tujuannya, bukan rakyat kecil yang menjadi central perhatiannya melainkan mengejar kepentingan pribadi dan kelompoknya. Rakyatpun dibuat lelah dan muak dengan tingkah para pemimpin kita yang bobrok, tidak bermoral dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan duniawinya.

Di tengah carut marut persoalat yang melilit negeri ini, Gereja tidak boleh larut dan putus asa dengan situasi yang ada. Ketika pemerintah tidak berdaya mengatasi persoalan yang ada khususnya dalam menjalankan amanat luhur untuk menyejahterakan rakyatnya, maka lembaga-lembaga Agama, termasuk Gereja Katolik dipanggil menjadi garda terdepan untuk memberikan kesejukan dan menguatkan iman umat di tengah-tengah kesukitan hidupnya khususnya persoalan kemiskinan yang melingkupinya.

Kemiskinan yang sama juga dialami oleh sebagian umat Gereja Lokal Keuskupan Denpasar. Hasil penelitian yang diadakan menjelang Sinode III menunjukkan bahwa sebagian umat di wilayah Keuskupan Denpasar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kenyataan kemiskinan ini menjadi tugas dan tanggung jawab bersama untuk mengentaskannya. Harus diakui bahwa untuk mencapai tujuan mulia demi menyejahterakan umat itu tidak gampang. Perjuangan untuk menyejahterakan umat khususnya yang rentan sosial ekonominya menghadapi banyak tantangan dan kendala, antara lain: situasi ketidakadilan (korupsi merajalela), ketidakmampuan umat menyikapi dengan cerdas pengaruh konsumerisme, khususnya tawarah iklan yang dengan gencar dipublikasikan melalui media cetak dan elektronik; ketidakmampuan umat membedakan kebutuhan primer dan sekunder; ketidakmampuan umat dengan lapangan pekerjaan yang tersedia; ketidakmampuan umat berpola hidup sederhana dan apa adanya; ketidak mampuan umat dalam melihat dan menangkap peluang untuk membangun dan menghayati hidup sejahtera dalam keadilan dan kebenaran.

Situasi kemiskinan dan berbagai kendala yang ada hendaknya menggugah para fungsionaris pastoral baik di tingkat paroki maupun Keuskupan untuk bekerja keras dan berjuang melakukan gerakan peduli sesama lebih-lebih kepada yang miskin dan menderita. Aksi nyata yang bisa kita lakukan adalah mendampingi kehidupan umat dengan berbagai kegiatan baik yang bersifat animasi (penyadaran), pelatihan untuk membekali umat dengan berbagai ketrampilan, pemberdayaan dan penguatan ekonomi umat melalui CU, UB, Koprerasi, bantuan modal usaha serta aksi-aksi nyata berupa bantuan sembako, pengobatan gratis, bantuan pendidikan anak-anak kurang mampu dll. Gerakan peduli nasib sesama ini merupakan implementasi dari sabda Yesus sendiri: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10.10b)

Memancarkan Wajah Kristus

Memancarkan Wajah Kristus adalah bagian dari Perutusan (Missio) Gereja. Memang Gereja perlu membangun persaudaraan dan persekutuan ke dalam, yang disebut komunio. Tetapi komunio baru bermakna kalau Gereja mampu melaksanakan tugas perutusan atau missio. Salah satu tugas perutusan itu adalah membebaskan manusia dari berbagai bentuk keterpurukan hidupnya, khususnya persoalan ekonomi yang dapat mempengarui kesejahteraan lahir dan batinnya. Kepada mereka yang menderita ini kita dipanggil untuk memancarkan wajah Kristus yang berbelas kasih, solider dan penolong. Demikian juga kita memandang pribadi si miskin sebagai ”pewahyu” wajah Yesus yang sedang menderita, yang terluka, tabah, menangis, karena Yesus hadir dalam dirinya yang miskin, menderita, tertekan dan susah (bdk Mat 25:31-46)

Sebagai pengikut Kristus kita dipanggil untuk meneladani Yesus Sang Penyelamat, Pembebas, Penolong, Pembawa Harapan. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:18-19).

Panggilah Hidup dan Tanggungjawab sebagai Umat Katolik

Sebagai umat Katolik kita mengemban panggilan hidup dan tanggungjawab untuk solider dengan mereka yang miskin dan menderita. Solidaritas itu dinyatakan melalui keberpihakan dan pemberdayaan orang miskin, tindakan berbagi serta keterlibatan secara aktif dalam memperbaiki struktur atau sistem yang tidak adil, dan memelihara lingkungan hidup.

Gereja sebagai tanda kehadiran Allah yang berziarah dalam sejarah manusia di tengah dunia hadir dan bergumul dalam persoalan-persoalan kemanusiaan. Gereja Katolik mengajak seluruh umat beriman untuk selalu peka dan peduli pada nasib sesama, terutama mereka yang miskin, menderita, terasing dan terbuang dari kancah dunia. Dengan semangat cinta kasih dan kebersamaan, semoga kita dimampukan untuk membawa kabar baik bagi mereka yang menderita karena ketidakberuntungan secara ekonomi, menderita secara fisik dan mental, sakit, cacat dan tertawan, menderita karena termarginalkan, serta menderita karena penindasan dan ketidakadilan. Dengan demikian melalui perbuatan amal kasih, kita telah mengambil bagian dalam tugas perutusan Kristus ke tengah dunia untuk menghadirkan Kerajaan Allah yang menawarkan damai dan sejahtera bagi umat yang dikasih–Nya

Peraturan Masa Tobat, Puasa dan Pantang dalam Gereja

Surat Gembala ini saya akhiri dengan penyampaian aturan-aturan Gereja mengenai tobat, puasa dan pantang yang berlaku dalam Gereja Katolik Universal:

1. Hari dan waktu tobat dalam Gereja Katolik adalah setiap hari Jumat sepanjang tahun dan selama 40 hari masa pra-paskah (Kan.1250).

2. Semua orang beriman Katolik wajib melakukan tobat demi hukum ilahi (artinya sesuai perintah Allah sendiri). Maka pada masa tobat tersebut, kita hendaknya secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa secara lebih intensif, menjalankan ibadat dan karya amal kasih, menyangkal diri dengan cara melaksanakan kewajiban-kewajiban dengan kasih setia, terutama dengan berpuasa dan berpantang (Kan.1249). Pantang makan daging dan makanan lainnya seturut kebiasaan hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, terkecuali hari Jumat itu jatuh bertepatan dengan suatu hari raya dalam Gereja (Kan.1251).

3. Kita berpantang dan berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung dalam Pekan Suci. Pada hari Jumat lainnya dalam masa pra-paskah ini kita hanya berpantang (Kan. 1251) meskipun puasa dianjurkan.

4. Yang diwajibkan berpuasa adalah semua orang yang telah berusia dewasa (genap 18 tahun) hingga awal tahun ke 60 (Kan 1252). Puasa berarti makan kenyang hanya sekali dalam sehari untuk tujuan-tujuan rohani dan amal.

5. Yang diwajibkan berpantang adalah semua orang yang telah berusia genap 14 tahun ke atas (Kan. 1252). Pantang berarti meninggalkan makanan tertentu atau kebiasaan-kebiasaan tertentu demi tujuan-tujuan rohani dan amal.

Akhirnya, saya ucapkan “Selamat menjalankan APP dan Selamat Pesta Paskah 2012. Tuhan memberkati kita.

Denpasar, 16 Pebruari 2012

Pada Pesta Beato Simon dari Cascia

Salam dan Berkatku

+Mgr. Silvester San

Uskup Denpasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s