PALESARI

SEJARAH TERJADINYA PALESARI DAN PERKEMBANGANNYA

A.    Asal mula :

Pada tanggal 15 September 1940 P. Simon Buis, SVD. bersama 18 orang/KK berangkat dari Tuka, Bringkit dan ditambah 6 KK dari Gumbrih sehingga rombongan seluruhnya berjumlah 24 orang/KK ditambah satu orang pimpinan rohani berangkat menuju Daerah Transmigrasi di Bali Barat, Alasan mereka pindah/transmigrasi ke Ball Barat; hasil wawancara itu penults simpulkan sbb :

1.         Motivasi dari almarhum Pastur Simon Buis, SVD. sebagai gembala dan pencetus ide masyarakat/Katolik, dengan wajah khas Bali.

2.         Didorong oleh kemauan untuk membebaskan diri dari himpitan kehidupan ekonomi karena sebagian besar umat muda hidup sebagai petani penggarap, yang miskin dari melarat.

3.         Ingin memiliki masa depan yang lebih baik bagi anak cucu mereka, sebagai generasi penerus Gereja Katholik Ball/Indonesia di masa mendatang.

4.         Mereka merasakan bahwa umat baru atau Gereja muda yang baru tumbuh dan berkembang ini perlu tempat yang lebih subur untuk memungkinkan perkembangan

5.         Ingin punya tanah garapan sendiri aebagai tumpuan mata pencaharian dan sumber kehidupan.

Dari penuturan para saksi atau pelaku sejarah berdirinya Palesari, tiga hari setelah pemberangkatan atau ditempat tujuan : yaitu di daerah kawasan hutan Pangkung Sente, dimana pohon-pohon PALE tumbuh lebat dan menjulang tinggi. Setelah melalui upacara dan doa, pekerjaan yang bersejarah inipun dimulai- Temyata menurut catatan almarhum dan penuturan para saksi yang masih ada, melihat tantangan dan keadaan tanah bennedan berat maupun pohon-pohon besar yang hams mereka tumbangkan dengan mengandalkan kapak, mulailah mereka tergoda dengan indahnya kampung asal dan timbul perpecahan ke dalam. Disaksikan oleh mandor, dan tanpa permisi pada pimpinan rohani, 18 diantara mereka melarikan diri, dan cuma 6 orang diantara mereka yang tetap bertahan, bertekad menemskan cita-cita semula. Keenam orang ini dalam catatan almarhum disebut sebagai sisa kecil yang tangguh dan setia. Betapa tidak mengecewakan, sebab hutan dan tanah desa yang telah beliau perjuangkan dengan gigih, penuh pengorbanan dan perdebatan pro dan kontra baik terhadap Pemerintah Hindia Belanda sendiri maupun kalangan Imam-Imam sendiri. Akankah sima sampai disini ?

Mulailah dilakukan pengejaran bersejarah. Penuturan para perintis yang ikut dalam pelarian, hal itu merupakan peristiwa, yang sangat memalukan. Perjalanan mereka buat “lari” banyak hambatan di jalan. Begitu mendapat bus, mereka berebut untuk mendapat tempat di depan. Dan alangkah terkejutnya, bagaimana pastomya yang melakukan pengejaran dengan jalan kaki, bisa lebih dulu tiba di Negara ( 22 Km ) dan mencegat bus seraya berseru;

“So…….! Apakah ada orang-orang Serani dalam bus ini?” Dan mereka yang belum habis rasa kagetnya turun dan digiring ke Kantor Kontrolir. Sekarang menjadi lokasi rumah Dinas Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jembrana. Mereka dimotivasi kembali, dan menyisihkan mereka yang masih setia, sehingga mendapat kelompok 12 berbanding 6. Yang 12 orang boleh kembali meneruskan pekerjaan dalam hutan; dan yang 6 orang meski dengan menyembah-nyembah tidak diperkenankan lagi dan diperintahkan pulang saja ke desa asal.

Mereka kini berkumpul kembali di dalam hutan buat meneruskan pekerjaan. Jumlah mereka ada 18 orang sudah termasuk 6 orang yang tetap di hutan atau tidak ikul melarikan diri. Mereka disebut sebagai 18 orang perintis pertama selaku pelopor dar sekaligus pendiri Palesari. Mereka dijiwai oleh tekad yang satu yaitu : Demi menyediakan masa depan yang lebih baik bagi Gereja yang baru tumbuh dan mass depan anak cucu mereka dikemudian hari. Mereka tebas hutan belantara yang masih yang seluruhnya mereka persembahkan kepada Tuhan. Dan sebagai bukti sebelum membangun pemukiman sendiri mereka bangun sebuah bangsal sebagai tanda kebersamaan, tempat Ibadah darurat yang sederhana, dan bagi Pastomya mereka membangun “RUMAH DI ATAS POHON”, karena khawatir gangguan binatang buas dan liar maupun bahaya banjir yang sewaktu-waktu datang mengancam, sebab Pastornya memiliki kegemaran tidur diatas “bantang” (pohon tumbang) yang melintang di atas sungai Sangiang Gede.

B.    Perkembangan:

Dalam uraian berikut ini perlu kiranya dicatat beberapa perkembangan baik dalam arti positif maupun negatifyang ikut menunjang terjadinya Desa Palesari sampai sekarang ini. Dan sekaligus ikut mewamai sejarah berdirinya Palesari.

Lahimya nama PALESARI, dalam hal ini Pastur Simon Buis, SVD. dapat inspirasi dari banyaknya pohon PALE yang tumbuh subur dimana ketika itu mereka bemaung (mesayuban). Menurut penuturan para perintis, pohonnya besar, tegak lurus;

bahkan ada yang tingginya melebihi “mem” gereja Palesari sekarang. Sedangkan G. I Gusti Kompiang Djiwa aim, mendapat inspirasi dari kata PALAS (Berpisah) dan SARI (Inti) yang mengandung makna “sisa kecil yang setia”. Raja Buleleng Anak Agung Panji Tisna sahabat P. Simon Buis, SVD. mengupas dari tinjauan filosofis dari kata PAHALA dan SARI. Namun semuanya menuju kepada hal yang satu dan sama yaitu PALESARI.

Perjalanan sejarah berikutnya terjadi pada tanggal 12 Nopember 1940, di hari Ulang Tahun beliau yang ke 48 dengan tiga buah bus beliau memboyong keluarga yang telah ditinggal oleh para suami mereka lebih kurang selama 2 bulan menuju “KANAAN”, di hutan Bali Barat yang telah dinamakan PALESARI. Tahun-tahun selanjutnya banyak kisah-kisah mania yang belum terungkap, namun tetap tersimpan di sanubari para perintis dan umat yang datang menyusul kemudian membanjiri Palesari seluas 200 Ha kian terasa sempit. Dan beliau telah mengantisipasi dengan memohon tambahan baru seluas 200 Ha kepada tuan Kontrolir dan Anake Agung (Raja Negara), untuk pemukiman yaitu lokasi Palesari yang sekarang. Permohonan dikabulkan. Namun kedatangan bangsa Jepang mengubah segalanya. Beliau ditawan semula di Singaraja kemudian dipindah ke Sulawesi Selatan (Makasar). Sehingga antara tahun 1942 – 1946 Palesari mengalami masa suram, karena ditinggal oleh Gembala yang amat dicintai oleh umatnya.

Bulan Meu 1946 beliau tiba kembali di Bali bersama P. J. Kersten, SVD., Beliau tiba kembali di Palesari ditengah umat yang amat dikasihinya, Palesari menurut kisah perintis sudah dihuni antara 90-100 KK. Tambahan lahan baru sebesar 200 Ha  yang sudah pemah mendapat persetujuan Raja, diperjuangkan kembali dan berhasi] diperoleh. Namun sudah ada pendatang baru dari kalangan non Katolik, sehingga timbul ketegangan yang hampir mengorbankan nyawa. Namun berkat diplomasi beliau ke atas dan ke bawah semua dapat diselesaikan dengan balk. Mulailah sejarah babak baru. Eksodus menyeberangi sungai Sangiang Gede dari Palesari lama ke Palesari kini.

Alasan-alasan yang mendorong mereka pindah dari Palesari Lama ke Palesari sekarang adalah:

1.         Palesari lama dirasa tak mampu lagi menampung para pendatang baik sebagai simpatisan maupun umat baru.

2.         Lokasi desa yang berbukit / gunung dirasa kurang memuaskan; sulit ditata atau dijangkau apalagi dibatasi oleh Sungai Sangiang Gede dan Pangkung Sente, sehingga cenderung terisolir.

3.         Adanya pendatang baru di desa Adnyasari, dengan tegak desa yang baik, yang menjadi pendorong untuk memperjuangkan lokasi tambahan yang lebih baik.

4.         Terkabulnya permohonan / perjuangan P. Simon Buis, SVD. untuk mendapat tambahan lokasi lagi sebesar 200 Ha. Disamping lebih luas juga sangat strategis dengan jarak yang tidak jauh; bahkan dikelilingi oleh tanah lahan pertanian penduduk.

Sejak tahun 1947, ditengah perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan Palesari berkembang dengan pesat. Ditandai dengan kehadiran sukarelawan-sukarelawan baru yang kian menyempumakan pembangunan Palesari, yaitu ; Valentina Ibu Ayu RR. Sabda Kusuma, Pastur Bernardus Blanken, SVD. dan yang tetap tinggal di tengah umat ialah Bruder Ignatius A. M. de Vrieze, SVD. Cita-cita beliau kian terwujud. Kehadiran Gereja di desa mesti disertai karya-karya karitatif, dan yang beliau prioritaskan adalah KESEHATAN dan PENDIDIKAN. Justru lewat tangan-tangan trampil relawan-relawan muda ini. Demikian berlanjut hingga nanti, patah tumbuh hilang berganti.

YP I Gst Ngr Windia Astika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s