Merintis Jalan

I.  Tahun 1938 -1940     : Merintis jalan menuju Tanah Terjanji.

Karya Misi di Bali secara formal dimulai pada tahun 1936, hari raya Panitekosta 6 Juni 1936 dengan dibaptisnya dua orang putera Bali: I Made Bronong dan I Wayan Diblug dari Tuka. Selanjutnya Tuka merupakan Paroki atau desa K-atolik pertama di Bali. Dengan umat rata-rata terdiri dari para petani penggarap dengan kehidupan sosial ekonomi yang sulit. Dari latar belakang ini, lahir pemikiran Pastoral yang briliant dari Pastur Simon Buis untuk ikut transmigrasi lokal ke daerah Jembrana, yang sejak tahun 1938 dibuka untuk daerah pertanian dan pemukiman. Proses perijinan mulai diurus, namun mulai ada hambatan dari pemerintah Kolonial Belanda dan kalangan sendiri. Namun beliau tetap berjuang, apalagi Desa Protestan yang pertama di Blimbingsari, 30 Nopember 1939, berdiri. Bertitik tolak dari ijin ini dalam waktu 3 bulan ijin diberikan sebanyak 200 Hektar.

II. Tahun 1940 -1942    : Membangun Pemukiman

15 September 1940 : 18 KK dari Tuka ditambah 6 KK dari Gumbrih menuju ke tanah terjanji yang masih merupakan kawasan hutan Pala yang sangat lebat. 3 hari di dalam hutan dengan peralatan serba sederhana, disertai ganguan nyamuk dan berbagai binatang buas, kerinduan kampung halaman mulai tumbuh dan nyali mulai ciut. 18 orang melarikan diri. Namun berhasil dicegat di kota Negara. Dari 18 orang itu, 12 orang diijinkan kembali masuk hutan, bergabung dengan 6 orang yang masih setia di hutan, Sedangkan yang 6 orang sebagai kelompok yang tak puas, dikembalikan ke desa Asal.

berdirinya Desa. Oleh sang Perintis Utama, P. Simon Buis aim. Desa yang baru didirikan dinamakan “PALESARI” Kata Pale berasal dari hutan Pale, Kata sari bermakna Inti atau secara Biblis Ragi. Karena keberhasilan pembangunan ini kian menarik, makin banyak umat yang datang. Oleh pemerintah dan Raja Jembrana diberi tambahan lahan lagi 200 Hektar pada tahun 1942

III. Tahun 1942 -1946     : MasaSuram

–           Diawali dengan masuknya Jepang. Pastur Simon Buis, ditahan oleh Jepang dengan alasan demi Keamanan. Semula di Singaraja dan akhimya dipenjara di Ujung Pandang (Pare-Pare). Umat kehilangan sang pemimpin, namun kehidupan menggereja tetap kokoh.

–           Muncul dua orang Ketekis yang melayani mereka. Yaitu Bapak Philipus da Parera, asal NTT aim. Dan Bapak I Nyoman Pegeg. Sekali-sekali mendapat kunjungan Pastoral dari Romo Gondo Wardoyo, O.Carm., Keuskupan Malang.

–           Met 1946, P. Simon Buis kembali ke Palesari. Sudah ada antara 110 KK dan Palesari sudah padat. Sehingga diperlukan pemukirman yang lebih luas dan dapat menjadi pusat desa pertumbuhan yang layak. Mulai dirancang pemukiman baru, diseberang Sungai Sangiang Gede yaitu Palesari yang sekarang.

IV. Tahun 1946-1951     : Membangun Palesari yang Baru.

–           Diawali dengan eksodus, menyeberangi Sungai Sangiang Gede yang ketika itu aimya masih garang, Tiap hari dipindah / dipikul satu rumah ke seberang, sehingga akhimya ke 100 KX dapat pindah.

–           Dilanjutkan dengan membangun pemukiman. Tahun 1947 Palesari diserang wabah penyakit dan banyak anak yang meninggal. Beliau mendapat sukarelawati dari Jawa, Solo yaitu Valentina Ibu Ayu Kendar Sabda Kusuma sebagai tenaga medis, Lanjut, beliau mendapat bantuan Seorang Pastur muda yaitu P.B. Blanken,SVD aim. sebagai penganti. Kemudian Br. Ignatius AM. de Vrieze, SVD. Trio inilah yang kemudian meletakkan kerangka landasan dasar pembangunan Palesari.

–           Tahun 1950, P. Simon Buis diangkat sebagai Pastur Paroki Singaraja dan tahun 1951 kembali ke Nederland. Dan kemudian meninggal di sana. P.B. Blanken, SVD menjadi Pastur paroki Palesari s/d tahun 1970.

V. Tahun 1951 -1967    : Masa Panen Raya.

–           Pertumbuhan Umat cukup pesat dari 151 jiwa sejak 1951 dan mencapai 1.402 jiwa dalam tahun 1966.

–           Membangun gedung Gereja vang permanen, pemukiman umat, fasilitas jalan, sekolah, kesehatan. Palesari menjadi pusat pendidikan dan pelayanan kesehatan. Gereja HKY sekarang, ditahbiskan 13-12-1958 oleh Mgr. Albers, O.Carm., Uskup Malang.

–           Pengembangan stasi Blimbingsari, Candi Kusuma dan Negara.

VI. Tahun 1967 -1990     : Membangun visi dan misi sejalan dengan tahun-tahun Pelita demi Pelita oleh Pemerintah.

–           Karya pengutusan dimulai, yaitu umat mulai transmigrasi menuju Lampung, Sulawesi Tengah (Parigi), Sulawesi Selatan yaitu Masamba dan Palopo, Sulawesi Tenggara di Unaaha Kendari (terbesar).

–          Pengutusan menuju rumah-rumah Biara yang diawali dengan tahbisan Tmam pertama tahun 1969 dan 1971, salah satu diantaranya Romo Marcel Gde Myarsa, Pr.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s